_

Sabtu, 24 November 2012

Kegiatan Management Pelatihan


Kegiatan manajeman pelatihan

Pembangunan pertanian ke depan diarahkan untuk memberikan peran dan partisipasi aktif masyarakat secara proporsional. Penyuluhan kehutanan memiliki peran strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat, karena penyuluhan kehutanan bukan saja berperan dalam prakondisi masyarakat agar tahu, mau dan mampu berperanserta dalam pembangunan pertanian, tetapi juga menumbuhkan kemandirian masyarakat yang berbasis kepada pembangunan pertanian.  

Pelatihan masyarakat merupakan salah satu kegiatan penyuluh-an dalam rangka memberdayakan masyarakat khususnya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat sasaran penyuluhan pertanian.  

Keberadaan masyarakat yang memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam bidang yang relevan dengan pembangunan kehutanan, diharapkan akan dapat mendukung dan berperanserta dalam pembangunan pertanian. Oleh karena itu pelatihan masyarakat perlu dilaksanakan dan dikembangkan dengan memperhatikan faktor efisiensi, efektivitas dan relevansi.  

Berbeda dengan  pendidikan umum yang diselenggarakan di sekolah-sekolah, pelatihan masyarakat berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan untuk memecahkan masalah yang dihadapi di masyarakat. Pada dasarnya,  pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dapat  diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan pelatihan pada prinsipnya harus digali dari masyarakat itu sendiri, terkecuali pelatihan masyarakat dalam rangka menumbuhkan penyuluh-penyuluh swadaya masyarakat yang diperlukan untuk mewujudkan penyuluhan dari, untuk dan oleh masyarakat kelak.  
Macam–macam pelatihan
Berdasarkan hasil diskusi atau penggalian informasi melalui pelaksanaan PRA atau wawancara dapat diketahui adanya kebutuhan pelatihan atau pelatihan yang diinginkan oleh kelompok masyarakat tadi. Jika ada beberapa usulan jenis pelatihan sedangkan dana untuk itu terbatas, maka perlu dilakukan pemilihan jenis pelatihan yang menjadi prioritas untuk dilaksanakan.

Pemilihan jenis pelatihan dilakukan melalui suatu diskusi dengan masyakat yang bersangkutan dalam suatu pertemuan khusus. Juga disesuaikan dengan ketersediaan dana.

Secara garis besar jenis pelatihan dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok yakni :

1.Pelatihan teknis yakni pelatihan yang  bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang usaha kehutanan. Contoh-contoh pelatihan yang termasuk kategori ini antara lain :
a.Pelatihan budidaya lebah madu.
b.Pelatihan budidaya ulat sutera.
c.Pelatihan agroforestry.
d.Pelatihan pembuatan pupuk organik.  
e.Pelatihan pembuatan budidaya tanaman pakan ternak.
f.Pelatihan gaharu.

2.Pelatihan manajemen, yakni pelatihan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang pengelolaan organisasi, administrasi, pemasaran/tata niaga produk atau peningkatan kesadaran atas norma tertentu.
Contoh-contoh pelatihan yang termasuk kategori pelatihan ini antara lain adalah :
a.Pelatihan kepemimpinan dalam organisasi.
b.Pelatihan manajemen pemasaran produk usaha tani.
c.Pelatihan PRA.
d.Pelatihan penyuluhan dari masyarakat kepada masyarakat.
e.Pelatihan gender.
Kegiatan identifikasi pelatihan diperlukan untuk menyiapkan  rencana/program  pelatihan. Hasil identifikasi kebutuhan pelatihan diperlukan sebagai dasar untuk merencanakan
anggaran untuk pelatihan.

Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak ada manfaatnya jika pelatihan yang dilaksanakan tidak atau kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, sebagai langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yakni :

1.Menggali informasi langsung dari masyarakat sasaran melalui diskusi kelompok yang terfokus. Dalam hal ini perlu diadakan suatu pertemuan/diskusi khusus antara kelompok masyarakat sasaran dengan fasilitator/penyuluh. Dalam diskusi ini ditanyakan, apa masalah yang dihadapi oleh kelompok masyarakat tersebut, pengetahuan atau keterampilan apa yang dibutuhkan oleh mereka dan apakah perlu ada pelatihan bagi mereka. Perlunya pelatihan biasanya terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok dalam melaksanakan kegiatannya. Usul perlunya pelatihan datang dari kelompok masyarakat itu sendiri, demikian pula jenis pelatihannya.

2.Menggali informasi melaui kegiatan Pengkajian Desa Secara Partisipatif/Participatory Rural Appraisal (PRA). Melalui pelaksanaan PRA yang dilanjutkan dengan pembuatan rencana-rencana peningkatan kegiatan di tingkat kelompok dapat diperoleh informasi kebutuhan pelatihan yang berasal dari masyarakat sendiri.

3.Menggali informasi melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat/anggota kelompok tani/masyarakat, disertai dengan pengamatan langsung terhadap kondisi masyarakat/kelompok tersebut.

4.Penelitian konvensional yang dilakukan oleh ahli. Melalui penelitian terhadap masyarakat yang bersangkutan yang mencakup tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan masyarakat  dalam melakukan usahanya yang berkaitan
dengan pertanian dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan pelatihan. Informasi dari hasil penelitian ini masih perlu dikonsultasikan lagi dengan pemuka/kelompok masyarakat tersebut untuk memperoleh kepastian pelatihan yang diperlukan.
               
Analisis kebutuhan
Pelatihan masyarakat perlu dirancang sedemikian rupa mengingat pesertanya pada dasarnya adalah orang dewasa, petani atau orang yang berprofesi  selain petani yang kegiatannya berkaitan dengan pembangunan pertanian. Oleh karenanya, maka dalam pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bagi  orang dewasa diantaranya bersifat partisipatif, reflektif, dan memberikan umpan balik.


Kegiatan identifikasi pelatihan diperlukan untuk menyiapkan  rencana/program  pelatihan. Hasil identifikasi kebutuhan pelatihan diperlukan sebagai dasar untuk merencanakan
anggaran untuk pelatihan.

Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak ada manfaatnya jika pelatihan yang dilaksanakan tidak atau kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, sebagai langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yakni :

1.Menggali informasi langsung dari masyarakat sasaran melalui diskusi kelompok yang terfokus. Dalam hal ini perlu diadakan suatu pertemuan/diskusi khusus antara kelompok masyarakat sasaran dengan fasilitator/penyuluh. Dalam diskusi ini ditanyakan, apa masalah yang dihadapi oleh kelompok masyarakat tersebut, pengetahuan atau keterampilan apa yang dibutuhkan oleh mereka dan apakah perlu ada pelatihan bagi mereka. Perlunya pelatihan biasanya terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok dalam melaksanakan kegiatannya. Usul perlunya pelatihan datang dari kelompok masyarakat itu sendiri, demikian pula jenis pelatihannya.

2.Menggali informasi melaui kegiatan Pengkajian Desa Secara Partisipatif/Participatory Rural Appraisal (PRA). Melalui pelaksanaan PRA yang dilanjutkan dengan pembuatan rencana-rencana peningkatan kegiatan di tingkat kelompok dapat diperoleh informasi kebutuhan pelatihan yang berasal dari masyarakat sendiri.

3.Menggali informasi melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat/anggota kelompok tani/masyarakat, disertai dengan pengamatan langsung terhadap kondisi masyarakat/kelompok tersebut.

4.Penelitian konvensional yang dilakukan oleh ahli. Melalui penelitian terhadap masyarakat yang bersangkutan yang mencakup tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan masyarakat  dalam melakukan usahanya yang berkaitan
dengan pertanian dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan pelatihan. Informasi dari hasil penelitian ini masih perlu dikonsultasikan lagi dengan pemuka/kelompok masyarakat tersebut untuk memperoleh kepastian pelatihan yang diperlukan.

Rancang bangun kegiatan pelatihan
Pelatihan masyarakat perlu dirancang sedemikian rupa mengingat pesertanya pada dasarnya adalah orang dewasa, petani atau orang yang berprofesi  selain petani yang kegiatannya berkaitan dengan pembangunan pertanian. Oleh karenanya, maka dalam pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bagi  orang dewasa diantaranya bersifat partisipatif, reflektif, dan memberikan umpan balik.

Desain atau lebih dikenal dengan rancangbangun adalah proses perencanaan yang menggambarkan urutan kegiatan (sistematika) mengenai suatu program. Rancangbangun program diklat adalah proses perencanaan urutan kegiatan komponen pelatihan yang merupakan suatu kesatuan yang bulat dari program tersebut.

Ada 3 (tiga) unsur penting dalam upaya meningkatkan kegiatan diklat bagi setiap individu, yaitu: maksud (apa yang harus dicapai), metode (bagaimana mencapai tujuan) dan format (dalam keadaan bagaimana penentuan rancangbangun yang akan dicapai).
Setelah kita menetapkan tiga unsur penting dalam rancangbangun suatu program latihan, langkah selanjutnya adalah:
1.menetapkan alokasi waktu, berapa lama waktu yang
   dibutuhkan untuk menerapkan rancangbangun tersebut;
2.apa yang Anda lakukan agar peserta terlibat dan
   berpartisipasi;
3.pokok atau kunci apa, instruksi apa, ide apa yang disajikan
   dan apa yang Anda inginkan dari peserta;
4.materi atau bahan apa yang Anda butuhkan atau apa
   kebutuhan peserta untuk mengaplikasikan rancangbangun;
5.pengaturan, bagaimana Anda mengetahui lingkungan fisik
   agar rancangbangun dapat berhasil;
6.akhir, penilaian apa yang Anda buat dan alat/diskusi apa
   yang diinginkan peserta sebelum melanjutkan ke kegiatan
   berikutnya.

Tujuan rancangbangun suatu latihan pada dasarnya adalah sebagai berikut:
1.Mengetahui secara sistematis tahapan kegiatan latihan yang
   akan dilaksanakan.
2.Mengetahui aspek-aspek mana yang akan menjadi fokus
   utamanya.
3.Mengetahui model yang digunakan dalam melaksanakan
   latihan.
4.Menyiapkan bahan-bahan dan metode yang digunakan.

Manfaat rancangbangun ada 2 (dua), yaitu sebagai berikut:
1.Merupakan pedoman atau acuan dalam pelaksanaan latihan.
2.Menyiapkan bahan dan metode yang akan digunakan dalam
   proses latihan.
Rumusan tujuan kegiatan pelatihan
Menurut Subagio, tujuan pelatihan dirumuskan dengan tujuan kegiatan pembelajaran atau disingkat TKP. Seseorang yang mengikuti latihan tertentu pada dasarnya adalah mengikuti suatu serentetan proses belajar agar dapat meningkatkan kemampuannya di berbagai bidang. Agar latihan dapat dirancang secara baik, maka pertama-tama perlu ditentukan apa tujuan latihan yang hendak direncanakan. Dengan tujuan yang jelas dan terarah, maka akan ditentukan secara tepat pula proses belajar yang akan diselenggarakan, alat dan bahan yang hendak dipergunakan, waktu, pelatih, dan sebagainya.
Tujuan belajar adalah adanya perubahan penampilan atau tingkah laku dari peserta latihan sebagai hasil dari proses belajar yang menggunakan materi latihan atau pokok bahasan tertentu, di mana materi latihan tersebut merupakan sumber rumusan tujuan belajar.
Dalam rangka penyusunan rencana pelatihan, rumusan tujuan belajar sangat diperlukan karena:
1.memudahkan orang untuk mengerti maksud dan hasil terbaik
   yang akan dicapai selama proses belajar;
2.merupakan tolok ukur bagi pelatih dalam menetapkan
   aktivitas belajar;
3.merupakan upaya bagi para pelatih dan penyelenggara
   latihan untuk mengamati perkembangan sikap peserta
   latihan;
4.merupakan kerangka dasar penilaian hasil belajar; dan
5.merupakan pernyataan spesifik dari perubahan
   pengetahuan, keterampilan, sikap (PKS) yang akan dialami  
   oleh peserta setelah proses belajar berlangsung.

Peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti latihan pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan pengetahuan berkaitan dengan kemampuan peserta dalam menggunakan daya pikir dan penalaran tentang materi yang dibahas. Keterampilan adalah kemampuan peserta dalam melakukan pekerjaan yang sifatnya fisik/teknis terhadap materi bahasan, sedangkan sikap adalah kecenderungan bagi peserta berkaitan dengan topik/materi yang dibahas.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang dirumuskan tergantung kepada topik atau pokok bahasan yang akan disampaikan. Mungkin saja dalam satu pertemuan, topik itu bersifat pengetahuan (teori) sehingga rumusan TIK-nya bersifat pengetahuan. Boleh jadi pokok bahasan di samping teori juga ada praktek sehingga TIK-nya bersifat pengetahuan dan keterampilan. Mungkin saja satu pokok bahasan ada unsur pengetahuan, keterampilan dan sikap dan perumusan TIK-nya pun mencakup tiga sifat itu.
TIK ketiga kawasan itu perlu memperhitungkan jenjang mana yang dipilih. Jenjang kemampuan TIK berbeda-beda, sehingga perlu diperhitungkan jenjang mana yang dipilih

Metode pelatihan
Pemilihan metode yang tepat dalam suatu latihan pada dasarnya merupakan upaya dalam mewujudkan proses belajar dan mengajar yang efektif. Mengajar yang efektif adalah mengajar yang membawa peserta belajar dengan efektif, untuk itu pelatih harus dapat memilih metode yang tepat agar dapat melakukan proses belajar-mengajar yang efektif. Metode latihan harus dapat memberikan jiwa yang menghidupi bagi semua kegiatan selama latihan. Pada latihan yang sifatnya partisipatif, melibatkan peserta dalam proses belajar-mengajar sebanyak-banyaknya, metode latihan yang sifatnya partisipatif sangat penting artinya. Dalam hal ini peserta adalah sebagai subjek belajar.

Pelatihan masyarakat merupakan pendidikan non formal, dengan demikian sifatnya berbeda dengan pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah-sekolah.

Dalam pelatihan non formal bagi orang dewasa, ada karakteristik peserta pelatihan/orang dewasa yang harus diperhatikan yakni :
- Orang dewasa mempunyai pengalaman dan pengalaman
  masing-masing orang berbeda satu sama lain.  
- Lebih suka menerima saran-saran daripada digurui.
- Biasanya menilai dirinya lebih rendah daripada kemampuan
  sebenarnya yang ada pada dirinya.
- Biasanya lebih menyenangi hal-hal yang bersifat praktis.
- Biasanya membutuhkan waktu belajar yang relatif lama,
  membutuhkan suasana akrab dan menjalin hubungan yang
  erat.
- Lebih suka dihargai daripada disalahkan.
- Hanya mau belajar dengan baik jika mereka menganggapnya
  perlu bagi mereka.
- Lebih memperhatikan hal-hal yang menarik bagi dia dan
  menjadi kebutuhannya.
- Menyukai cara belajar yang melibatkan peran mereka.

Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat dipilih dalam pelatihan ini yakni:
1. Ceramah yang disertai dengan alat peraga.
Metode ini adalah metode yang hanya efektif jika waktu yang tersedia sempit. Dalam ceramah, penyampaian informasi lebih cenderung bersifat searah. Adanya alat peraga atau alat bantu sangat membantu dalam memberikan kejelasan bahan atau materi pembelajaran yang disampaikan dengan cara ini.

2. Diskusi
Metode ini lebih partisipatif daripada ceramah. Dalam diskusi, para peserta pelatihan diajak berfikir bersama dan mengungkapkan pikirannya sehingga timbul pengertian pada diri sendiri, pada kawan diskusi dan pada masalah yang dihadapi.

3. Pemeranan
Pemeranan adalah suatu usaha untuk membantu para peserta pelatihan mengalihkan suatu masalah belajar yang tertulis ke dalam praktek atau dramatisasi dari persoalan dengan melihat kenyataan langsung. Biasanya lokasi kegiatan pembelajaran adalah lahan petani sendiri dan prosesnya melaui penemuan/praktek lapangan.

4. Kontinum Proses Belajar
Kontinum proses belajar adalah suatu proses penataan pengalaman untuk mencapai perluasan pengalaman berdasarkan pengalaman sendiri maupun pengalaman orang/pihak lain. Contoh : studi banding dan magang.

5. Pengalaman Terstruktur
Latihan-latihan dan permainan yang dirancang secara cermat untuk menciptakan suatu pengalaman tertentu bagi peserta dilakukan dalam situasi belajar. Metode ini merupakan ciri khas metode belajar yang manfaatnya besar sekali dalam pendidikan orang dewasa, dengan tujuan meningkatkan keterampilan, mengubah perilaku dan kerjasama dalam organisasi. Contohnya adalah belajar melalui petak pengalaman/demonstration plot (demplot), studi banding.

Langkah-langkah penyelenggara pelatihan
Setelah segala sesuatunya tentang pendidikan-latihan (Diklat) selesai direncanakan, tahap berikutnya adalah pelaksanaan latihan. Dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan ini dapat dibagi menjadi tiga langkah, yaitu langkah persiapan, langkah pelaksanaan pelatihan dan langkah pelaporan. Dari sumber yang lain, menjelaskan pada langkah ketiga diringkas dengan tahap pasca latihan di mana fokusnya adalah pada tindak lanjut latihan oleh peserta.

Langkah persiapan mencakup dua hal, yaitu persiapan administratif dan persiapan edukatif. Persiapan yang sifatnya administratif adalah menyangkut kegiatan surat-menyurat, persiapan, keuangan dan prosedur pelaksanaan latihan itu sendiri.

Sedangkan persiapan yang sifatnya edukatif adalah segala persiapan latihan yang berhubungan langsung dengan proses belajar-mengajar yang akan diselenggarakan. Kedua persiapan ini perlu dilakukan secara cermat, terutama oleh panitia yang menyangkut administrasi dan oleh pelatih yang menyangkut proses pembelajaran.

Persiapan administrasi pelatihan menyangkut berbagai hal, peserta, pelatih (widyaiswara), buku pedoman/petunjuk latihan, perlengkapan latihan, formulir pendaftaran, pembiayaan pelaksanaan diklat dan sebagainya. Sedangkan persiapan edukatif latihan mencakup menentukan kebutuhan alat dan bahan pembelajaran, jadwal latihan, biaya edukatif, ruang pertemuan dan lahan praktek, laboratorium dan sebagainya.

Persiapan edukatif perlu dipersiapkan agar proses pembelajaran dapat sesuai dengan tuntutan kurikulum latihan. Persiapan edukatif adalah persiapan yang dilaksanakan oleh panitia penyelenggara melalui petugas yang ditunjuk.
Persiapan edukatif yang dimaksud antara lain:
1.menyusun panduan belajar/latihan, praktek, kuliah,
   pertemuan, seminar, PKL dan sebagainya;.
2.menyusun jadwal pelatihan atau kalender pelatihan yang
   mencakup satu proses dari awal hingga akhir;
3.mempersiapkan pelatihan sesuai jadwal yang dibuat;
4.menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan terutama bahan
   yang tahan lama dan digunakan berulang, seperti benih,
   pupuk, bahan kimia dan sebagainya;
5.menyiapkan alat praktek, alat bantu mengajar (OHP, film, TV)
   dan sebagainya yang dibutuhkan selama latihan;
6.mempersiapkan blanko-blanko dan format-format isian yang
   berkaitan dengan proses pembelajaran seperti daftar hadir,
   dan perizinan;
7.mempersiapkan satuan acara perkuliahan (SAP), elemen
   keterampilan, lembar penugasan, dan sebagainya;
8.mempersiapkan dan mengidentifikasi kebutuhan bacaan yang
   diperlukan;
9.mempersiapkan lembar mengajar (LPM) dan lembar evaluasi
   serta soal-soal untuk tes awal.

Penyelenggaraan pelatihan
A. PEMBUKAAN
Pada prinsipnya pembukaan pelatihan merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari acara pembukaan, pengarahan umum, pengarahan kegiatan pelatihan, dan penjelasan panitia pelaksana mengenai tata tertib dan hal-hal lain yang perlu disampaikan, misalnya tentang akomodasi dan fasilitas selama pelatihan.

Pembukaan pelatihan dapat dilaksanakan secara formal dengan suatu acara sambutan/pengarahan dari pejabat instansi, tetapi dapat dilakukan secara informal minimal oleh ketua penyelenggara pelatihan dengan pernyataan singkat dan disertai penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan.

B. PEMBELAJARAN
1. Proses Pembelajaran
Pada pelatihan yang dilaksanakan dalam suasana belajar di kelas dan berlangsung dalam beberapa hari, kegiatan pembelajaran diawali dengan pengenalan fasilitator/instruktur dan pembacaan biodata fasilitator/instruktur, dilanjutkan dengan pemberian materi ajaran sesuai dengan kurikulum dan silabus. Pada pembelajaran yang kompleks, kegiatan belajar mencakup :
- Teori, dilaksanakan di kelas/ruangan atau di tempat lain yang memungkinkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran teori, fasilitator/instruktur menyiapkan materi sesuai dengan mata ajaran dalam bentuk “hand out” atau bahan serahan atau alat
bantu pembelajaran.
- Praktek Lapangan, karyawisata, widyawisata atau bentuk kunjungan lainnya yang
dilaksanakan sesuai dengan kurikulum dan silabus yang ada.

Selama pelatihan perlu dibangun suasana yang memungkinkan para peserta maupun fasilitator bebas mengemukakan pendapat, saling tukar pengalaman. Fasilitator/instruktur diharapkan mampu menghargai setiap pendapat, pikiran,
pengalaman peserta dan hasil karya peserta.

2. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Pada pelatihan-pelatihan tertentu, setelah sesi pembelajaran dalam pelatihan tersebut selesai, maka kepada peserta diminta agar mereka menuliskan rencana tindak lanjut (RTL). Artinya, setelah peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari pelatihan itu, para peserta membuat rencana tertulis mengenai kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

3. Administrasi Pembelajaran
Kegiatan ini meliputi segala bentuk pengadministrasian dalam proses pembelajaran yang dimaksudkan untuk kelancaran, dokumentasi dan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan pelatihan.

C. PENUTUPAN PELATIHAN
Penutupan pelatihan mencakup acara pembacaan atau pernyataan secara resmi tentang selesainya pelatihan dan pemulangan peserta pelatihan.
Pengorganisasian pelatihan
Pengorganisasian merupakan inti manajemen, karena itu membahas masalah pengorganisasian latihan pada dasarnya berbincang perihal manajemen latihan. Manajemen di mana pun (termasuk latihan) berkaitan erat dengan upaya mengatur berbagai unsur pendukungnya, yaitu unsur manusia, sarana (dalam arti luas) dan unsur dana. Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah unsur waktu dan unsur lingkungan.

Unsur manusiawi dalam latihan mencakup pelatih atau fasilitator, peserta latihan, penyelenggara latihan, personal atau lembaga pengirim peserta latihan dan sebagainya. Unsur sarana termasuk di dalamnya segala macam peralatan atau perlengkapan dari yang paling konvensional sampai yang paling canggih yang berkaitan erat dengan kebutuhan latihan secara langsung ataupun tidak. Unsur dana mencakup segala macam pembiayaan latihan dan unsur waktu mencakup kapan dan seberapa lama keseluruhan maupun setiap kegiatan akan berlangsung. Adapun unsur lingkungan kecuali mencakup lingkungan fisik, juga mencakup lingkungan sosial serta suasana yang perlu diciptakan agar latihan terselenggara dengan baik.

Agar suatu latihan dapat diselenggarakan sebagaimana mestinya, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian latihan berikut ini.
1.Sejalan dengan penahapan penyelenggaraan latihan,
   pengorganisasian latihan memikul tugas tertentu di setiap
   tahap latihan. Agar peserta memperoleh manfaat yang
   maksimum, maka semua pihak yang terlibat perlu menunaikan
   tugas masing-masing dengan cara yang baik dan serius pada
   setiap tahap penyelenggaraan latihan.
2.Pengorganisasian terhadap semua unsur pendukung
   manajemen diarahkan untuk mencapai tujuan latihan.
3.Unsur manusiawi dalam penyelenggaraan latihan yang terdiri
   dari pelatih, peserta, penyelenggara latihan dan sebagainya,
   perlu berperan secara tepat sebagaimana telah ditetapkan
   pada setiap tahap latihan. Hal yang perlu ditekankan adalah
   peserta latihan merupakan subjek pendidikan yang
   selayaknya mendapatkan perhatian sentral. Dalam latihan
   segala upaya, segala sarana, segala kemudahan dan
   suasana boleh dilakukan, disediakan, dan diciptakan agar
   peserta latihan dapat mengaktualisasikan pengalaman dan
   kemampuannya secara optimum.
4.Evaluasi terhadap pengorganisasian latihan dapat dilakukan
   pada setiap akhir tahapan. Hasil evaluasi dapat menjadi
   masukan bagi pelaksanaan tahap berikutnya.
5.Menempatkan peserta latihan sebagai subjek latihan pada
   dasarnya juga berarti proses pelimpahan tanggung jawab
   dalam rangka pengorganisasian latihan.
Masalah dan alternatif pemecahannya
Pada dasarnya setiap tahapan latihan senantiasa perlu diidentifikasi jenis kegiatan mana yang mungkin dilimpahkan kepada peserta latihan. Namun pada akhirnya sebagian besar tanggung jawab penyelenggaraan latihan terletak di tangan peserta latihan.
Perencanaan kegiatan tersebut perlu dilengkapi dengan identifikasi segala sesuatu yang mungkin dapat menghambat atau boleh jadi menggagalkan tujuan. Segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan itu disebut masalah.
Masalah adalah segala sesuatu yang dapat menghambat atau menghalangi tercapainya suatu tujuan kegiatan yang direncanakan. Pada dasarnya masalah suatu kegiatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu masalah teknis, masalah ekonomi, dan sosial.

1.Masalah Teknis, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   sifatnya berkenaan dengan penerapan teknologi tertentu.  
   Dalam kasus tikus di atas, contohnya petani tidak dapat
   menangani enanganan hama ini.
2.Masalah Ekonomi, merupakan suatu hambatan kegiatan yang
   berkaitan dengan keterlibatan dana/uang. Dalam contoh tikus
   di atas, petani tidak dapat menyediakan pestisida khusus
   untuk memberantas tikus yang merajalela karena harganya
   mahal, sehingga tidak mampu membeli.
3.Masalah Sosial, adalah segala sesuatu hambatan disebabkan
   faktor sosial masyarakat setempat. Contoh kasus di atas
   misalnya masyarakat/petani setempat tidak mau
   memberantas tikus karena berkeyakinan hama tikus akan
   menyerang lebih hebat.

Masalah pra latihan, adalah masalah yang muncul pada proses persiapan latihan. Masalah yang muncul dapat menyangkut peserta, pelatih dan fasilitas yang disediakan. Masalah yang berkaitan dengan peserta terutama jika dilihat dari jumlah peserta, apakah terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Peserta yang terlalu banyak melebihi batas yang ditentukan, akan mengurangi efektivitas belajar serta kesulitan dengan sumber daya yang tersedia. Usaha menanganinya adalah:
1.Latihan dibagi menjadi beberapa tahap, tiap tahap jumlah
   peserta paling banyak antara 20-25 orang.
2.Memilih peserta yang potensial untuk dilatih menjadi pelatih.
   Mereka diharapkan dapat melatih kelompok-kelompok di
   daerah masing-masing.

Jika jumlah peserta terlalu sedikit, kurang dari yang ditentukan maka untuk menghindari adalah:
1.Memberikan penjelasan yang mantap kepada pihak-pihak
   yang bersangkutan tentang tujuan latihan, misalnya kepada
   Pamong, kelompok-kelompok masyarakat, PKK, kelompok
   pendengar, kontak tani dan lain-lainnya.
2.Meninjau kembali apakah materi latihan sudah sesuai dengan
   kebutuhan masyarakat.

Evaluasi pelatihan
Dalam suatu latihan, evaluasi perlu dilakukan baik yang mencakup proses maupun keberhasilannya. Secara umum evaluasi diartikan sebagai alat manajemen yang berorientasi tindakan dan proses (Van den Ban, 1999). Selanjutnya dijelaskan bahwa informasi yang diperoleh dari evaluasi kemudian dianalisis sehingga relevansi dan efek serta konsekuensinya dapat ditentukan subjektif dan sesistematik mungkin. Pendapat lain menyebutkan bahwa evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur efektivitas program latihan (Subagio, 2002).
Evaluasi lebih ditekankan sebagai suatu proses menentukan nilai yang berhubungan dengan tujuan yang direncanakan. Evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dalam meraih tujuan yang direncanakan.
Dalam evaluasi terdapat 3 (tiga) unsur, yaitu (1) mengamati/ mengumpulkan data; (2) menggunakan kriteria atau ukuran tertentu; dan (3) membuat kesimpulan/keputusan tertentu.
Dalam suatu kegiatan latihan, evaluasi dapat dilakukan baik terhadap proses pelaksanaan latihan maupun hasil yang dicapai. Secara umum manfaat evaluasi latihan adalah sebagai berikut:
1.Sebagai masukan (input) bagi latihan yang sedang
   berlangsung,
2.Untuk masukan (input) bagi pelatihan yang akan datang, dan
3.Untuk menyajikan faktor tentang tingkat keberhasilan latihan
   kepada berbagai pihak dalam rangka memberikan
   pertanggungjawaban terhadap pelaksanaan latihan.

Mengingat manfaat evaluasi latihan tersebut dianggap penting, maka tata cara evaluasi latihan perlu dilakukan secara akurat dengan cara-cara yang tepat sehingga hasil evaluasi memiliki validitas yang tinggi.
Seperti telah dikemukakan terdahulu, evaluasi latihan merupakan bagian integral dari proses belajar. Hal ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan evaluasi telah direncanakan bersamaan dengan perencanaan program belajar secara menyeluruh. Pelaksanaan evaluasi yang tidak direncanakan secara integral atau menyeluruh mengandung bahaya. Di satu pihak tidak memberi manfaat apa pun karena dilakukan secara insidental atau di pihak lain dapat membosankan karena terlalu sering dilaksanakan. Dilihat dari keseluruhan, maka proses pelaksanaan evaluasi adalah sebagai berikut.
1.Menetapkan tujuan umum evaluasi pelatihan.
2.Menetapkan aspek-aspek atau sasaran apa saja yang akan
   dievaluasi, dan untuk apa aspek itu dievaluasi.
3.Menetapkan bentuk atau cara melakukan evaluasi. Aspek
   sasaran apa yang dievaluasi secara tertulis dan aspek mana
   yang dievaluasi secara lisan dan tertulis, atau jika ada aspek
   mana yang dilaksanakan secara tes pembuatan/keterampilan/
   tes sampel kerja.
4.Menyusun dan memilih instrumen yang akan digunakan.
5.Menyelenggarakan evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah
   ditetapkan.
6.Menganalisis dan membuat kesimpulan dari data yang diolah
   dan dicatat.
7.Merumuskan dan mengajukan umpan balik. Pemberian umpan balik ini merupakan inti dari kegiatan evaluasi. Pemberian umpan balik harus tepat waktu dan tepat sasaran.

Dari uraian di atas hendaknya disadari bahwa mengelola evaluasi dalam suatu latihan bukan merupakan pekerjaan sambilan. Evaluasi spontan yang dilakukan pelatih hendaknya disinkronkan dengan keseluruhan kegiatan evaluasi.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar